
Posko BPOM di Aceh Jadi Ruang Pulihkan Warga Sekitar
Posko BPOM di Aceh Jadi Ruang Pulihkan Warga Sekitar. Di tengah lumpur dan puing yang masih menyelimuti Aceh Tamiang, sebuah posko sederhana berdiri sebagai oase harapan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Aceh mendirikan posko darurat di Kuala Simpang sejak 30 November 2025, tak hanya untuk pantau kualitas bantuan makanan dan obat, tapi juga jadi ruang pulihkan warga yang trauma. Banjir bandang akhir November ini telah merenggut 867 nyawa di Sumatera, dengan Aceh Tamiang sebagai pusat penderitaan—lebih dari 225.000 jiwa mengungsi, desa-desa hilang, dan penyakit mulai mengintai. Di posko ini, petugas BPOM tak hanya cek tanggal kedaluwarsa mie instan, tapi juga dengar cerita warga yang kehilangan segalanya. Kisahnya sederhana: dari kelaparan fisik ke pemulihan jiwa, posko jadi saksi ketangguhan manusia di saat terburuk.
Latar Belakang Banjir dan Peran BPOM Aceh
Banjir bandang di Aceh Tamiang datang seperti badai tak terduga. Hujan deras sejak 20 November memicu luapan Sungai Tamiang dan longsor di lereng bukit, menyapu 3.310 desa di 18 kabupaten Aceh. Hingga 5 Desember, 1,4 juta jiwa terdampak, 849.000 mengungsi, dan infrastruktur porak-poranda—jalan nasional terendam, listrik padam, rumah-rumah jadi lautan lumpur. Di Kuala Simpang, ibu kota kabupaten, air setinggi tiga meter bawa puing kayu dan kendaraan, ubah kota ramai jadi zona mati. Korban jiwa di Aceh capai 218, tapi angka nasional Sumatera tembus 867, dengan 521 masih hilang.
BPOM, yang biasa urus pengawasan obat dan makanan, kini turun tangan di fase pemulihan. Berdasarkan koordinasi dengan BNPB dan BPBD Aceh, BPOM bangun posko di lokasi strategis seperti Bukit Tempurung dan Manyak Payed. Tugas utama: pastikan bantuan aman. Mie instan, beras, dan obat anti-diare yang datang dari Jawa atau Sumatera Utara dicek ketat—bebas kontaminasi air kotor atau kadaluarsa akibat panas lembab. Seorang petugas BPOM, Andi Rahman, bilang, “Kami lihat stok obat menipis; warga anak dan lansia rentan demam dan diare dari air banjir.” Posko ini tak hanya gudang, tapi hub koordinasi, kolaborasi dengan TNI dan relawan untuk distribusi cepat ke 56.000 keluarga terdampak.
Posko Aceh sebagai Ruang Pemulihan Fisik dan Jiwa
Posko BPOM Aceh lebih dari tenda biru dengan meja pemeriksaan; ia jadi tempat warga bernapas lega. Setiap pagi, antrean panjang terbentuk—ibu gendong bayi minta susu formula aman, petani tua cek obat hipertensi yang basah kuyup. Tim BPOM, dibantu apoteker mobile, periksa 500-700 orang per hari, fokus cegah wabah. “Air banjir bawa bakteri; kami tes sampel makanan di tempat, beri label aman,” jelas koordinator posko, Siti Nurhaliza. Bantuan obat capai 10.000 paket: paracetamol untuk demam, salep gatal dari kulit terendam, dan vitamin cegah malnutrisi. Di sini, warga seperti Ibu Fatimah, 55 tahun dari Desa Sungai Liput, dapat mie instan segar setelah seminggu makan sisa reruntuhan.
Tapi pemulihan tak berhenti di obat. Posko jadi ruang curhat, di mana psikolog dari Kemenkes gabung sesi kelompok. Anak-anak trauma gambar banjir di kertas bekas, sementara orang dewasa bagi cerita kehilangan—seperti ayah yang cari jasad anak di lumpur. “Kami dengar, bukan cuma kasih pil,” kata Andi. Solidaritas muncul: warga bantu sortir bantuan, relawan masak bubur dari beras BPOM untuk 200 jiwa per kali. Di malam hari, posko nyalakan lampu darurat, jadi pusat doa bersama yang satukan Muslim, Kristen, dan Buddha di Aceh multietnis. Efeknya nyata: kasus diare turun 30% di pengungsian sekitar, dan warga mulai bangun tenda mandiri, langkah awal pulang.
Tantangan dan Langkah ke Depan
Meski berjalan lancar, posko hadapi rintangan. Jalan rusak dan longsor sisa banjir hambat truk obat dari Medan—distribusi telat dua hari di desa pedalaman. Stok obat tipis karena permintaan melonjak; hipertensi dan infeksi kulit jadi kasus utama di 31 RS dan 122 puskesmas Aceh yang rusak. Cuaca hujan residu perpanjang risiko, sementara koordinasi antar lembaga kadang kacau tanpa sinyal. BPOM atasi dengan helikopter drop paket kecil, tapi butuh anggaran lebih untuk tes lab mobile.
Ke depan, posko rencanakan perluasan: training warga lokal soal higienis makanan, agar mandiri pasca-darurat. Kolaborasi dengan LSM seperti PMI tambah kit sanitasi, target pulihkan 50.000 keluarga dalam sebulan. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, instruksikan posko tetap buka hingga Desember akhir, integrasikan dengan rekonstruksi drainase. “Ini bukan akhir, tapi awal bangkit,” tegasnya saat kunjungan 4 Desember.
Kesimpulan
Posko BPOM di Aceh jadi lebih dari titik bantuan; ia ruang di mana luka fisik dan jiwa mulai sembuh, di tengah duka banjir yang ubah wajah Tamiang. Dari cek obat sederhana hingga peluk empati, inisiatif ini tunjukkan peran lembaga pemerintah di luar rutinitas—jadi penjaga harapan. Dengan 1,4 juta terdampak, pemulihan butuh semua pihak: gotong royong warga, bantuan nasional, dan pencegahan iklim. Aceh akan bangkit, seperti tsunami dulu, tapi kali ini dengan posko seperti ini sebagai fondasi kuat. Semoga cerita ini jadi inspirasi, bahwa di balik lumpur, ada tangan yang ulur.
You may also like

Trump Berikan Jari Tengah Usai Diteriaki “Pelindung Pedofil”

Kyiv Ditutup Kegelapan Usai Laringan Listrik Rusia Dirusak

Leave a Reply