
APBN Tekor Rp 560.3 Trilliun Jelang Tutup Tahun
APBN Tekor Rp 560.3 Trilliun Jelang Tutup Tahun. Menjelang penutupan tahun anggaran 2025, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit sebesar Rp560,3 triliun per 30 November. Angka ini setara dengan 2,35 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski terdengar besar, defisit ini berita terbaru masih dalam batas terkendali dan sesuai desain fiskal pemerintah. Realisasi ini mencerminkan dinamika ekonomi yang tetap ekspansif di tengah tantangan global.
Realisasi Pendapatan APBN Negara
Pendapatan negara hingga akhir November mencapai Rp2.351,5 triliun, atau 82,1 persen dari outlook tahun ini sebesar Rp2.865,5 triliun. Penerimaan perpajakan menjadi kontributor utama, terealisasi Rp1.903,9 triliun (79,8 persen dari target). Ini terdiri dari pajak Rp1.634,4 triliun dan cukai serta bea Rp269,4 triliun. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) cukup kuat dengan Rp444,9 triliun atau 93,2 persen dari proyeksi. Capaian ini menunjukkan upaya optimalisasi sumber pendapatan nonpajak berjalan baik, meski perpajakan masih perlu dorongan ekstra di bulan terakhir.
Belanja Negara APBN yang Ekspansif
Di sisi pengeluaran, belanja negara telah mencapai Rp2.911,8 triliun atau 82,5 persen dari outlook Rp3.527,5 triliun. Belanja pemerintah pusat terealisasi Rp2.116,2 triliun, sementara transfer ke daerah mencapai Rp795,6 triliun. Belanja ini difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendukung infrastruktur, dan reformasi struktural. Keseimbangan primer tercatat defisit Rp82,2 triliun, tapi ini masih mencerminkan pengelolaan fiskal yang prudent. Belanja tetap ekspansif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan disiplin anggaran.
Prospek Akhir Tahun dan Tantangan
Dengan satu bulan tersisa, defisit saat ini sudah mencapai sebagian besar dari outlook keseluruhan yang diproyeksikan sekitar 2,78 persen PDB. Pemerintah optimistis defisit akhir tahun tetap di bawah batas aman 3 persen PDB. Tantangan utama ada pada percepatan realisasi belanja produktif dan pengumpulan pendapatan di Desember, yang biasanya lebih tinggi karena efek akhir tahun. Dinamika global juga menjadi faktor pengawas, tapi APBN tetap menjadi penyangga stabilitas ekonomi nasional.
Kesimpulan
Defisit APBN Rp560,3 triliun per November 2025 menandakan kebijakan fiskal yang aktif mendukung pertumbuhan di tengah tekanan eksternal. Pendapatan dan belanja sama-sama tinggi realisasinya, menunjukkan APBN berfungsi optimal sebagai shock absorber. Pemerintah terus menjaga keseimbangan agar defisit tetap terkendali jelang tutup tahun, sehingga ekonomi Indonesia bisa closing 2025 dengan fondasi kuat untuk tahun depan.
You may also like

Trump Berikan Jari Tengah Usai Diteriaki “Pelindung Pedofil”

Kyiv Ditutup Kegelapan Usai Laringan Listrik Rusia Dirusak

Leave a Reply