
PM Thailand Membubarkan Parlemen Negaranya
PM Thailand Membubarkan Parlemen Negaranya. Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul resmi membubarkan parlemen pada 12 Desember 2025, setelah mendapat persetujuan dari Raja Maha Vajiralongkorn. Langkah ini membuka jalan bagi pemilu dini yang dijadwalkan awal tahun depan, kemungkinan akhir Januari atau awal Februari. Anutin menyatakan keputusan ini untuk “mengembalikan kekuasaan kepada rakyat”, di tengah pemerintahan minoritasnya yang kehilangan dukungan kunci. Pembubaran terjadi saat konflik perbatasan dengan Kamboja masih memanas, menambah kompleksitas situasi politik domestik. BERITA VOLI
Alasan Pembubaran Parlemen: PM Thailand Membubarkan Parlemen Negaranya
Pembubaran ini dipicu oleh penarikan dukungan dari partai oposisi utama, People’s Party, yang sebelumnya mendukung Anutin naik jadi perdana menteri pada September lalu. Kesepakatan saat itu mengharuskan Anutin mendukung amandemen konstitusi dan bubarkan parlemen dalam empat bulan. Namun, konflik soal hak veto senat dalam draf konstitusi baru membuat kesepakatan pecah. People’s Party sempat ancam ajukan mosi tidak percaya, tapi Anutin lebih dulu bubarkan parlemen untuk hindari krisis lebih dalam. Ia tekankan pemerintahan minoritas tak bisa jalankan agenda efektif di tengah isu domestik dan eksternal.
Konteks Konflik Perbatasan dengan Kamboja: PM Thailand Membubarkan Parlemen Negaranya
Keputusan ini datang saat bentrokan bersenjata di perbatasan Thailand-Kamboja masih berlangsung, dengan korban jiwa puluhan orang dan ratusan ribu warga mengungsi. Anutin tegaskan pembubaran parlemen tak ganggu operasi militer, yang tetap fokus lindungi kedaulatan. Sikap tegasnya terhadap Kamboja justru angkat sentimen nasionalis, potensial tingkatkan dukungan partainya menjelang pemilu. Meski ada upaya diplomasi internasional, termasuk intervensi dari luar, situasi lapangan masih tegang dan jadi faktor pendukung langkah politik ini.
Dampak pada Politik dan Ekonomi Thailand
Pembubaran parlemen tambah ketidakstabilan politik, di mana Anutin jadi perdana menteri ketiga sejak 2023. Ekonomi Thailand tertekan oleh pertumbuhan lambat, utang rumah tangga tinggi, dan ketidakpastian global. Pemilu dini diharapkan beri mandat baru, tapi juga risiko polarisasi lebih dalam antara kubu konservatif dan progresif. Anutin tetap jabat sebagai perdana menteri sementara dengan wewenang terbatas hingga pemerintahan baru terbentuk.
Kesimpulan
Pembubaran parlemen oleh PM Anutin Charnvirakul jadi langkah strategis kembalikan stabilitas melalui suara rakyat, meski di saat krisis perbatasan. Pemilu mendatang akan uji kekuatan partai-partai utama, dengan harapan hasilnya bawa pemerintahan lebih kuat atasi tantangan dalam dan luar negeri. Situasi ini tunjukkan dinamika politik Thailand yang rapuh, tapi juga peluang reset untuk kemajuan lebih baik. Semoga proses demokrasi berjalan lancar dan bawa kedamaian bagi rakyat.
You may also like

Trump Berikan Jari Tengah Usai Diteriaki “Pelindung Pedofil”

Kyiv Ditutup Kegelapan Usai Laringan Listrik Rusia Dirusak

Leave a Reply