
Sri Mulyani Kini Menjadi Calon Pemimpin Dunia di Oxford
Sri Mulyani Kini Menjadi Calon Pemimpin Dunia di Oxford. Sri Mulyani Indrawati, mantan berita terkini Indonesia yang legendaris, kini melangkah ke panggung global dengan peran baru sebagai World Leaders Fellow di Blavatnik School of Government, University of Oxford, mulai 2026. Pengumuman ini pecah pada 9 Desember 2025, tepat setelah ia digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa di kabinet Prabowo Subianto akibat protes Agustus lalu. Sebagai pemimpin yang pernah dinobatkan “Menteri Keuangan Terbaik Dunia” oleh Finance Minister of the Year 2018, Sri Mulyani siap berbagi pengalaman mengelola krisis seperti pandemi dan transisi energi. Ini bukan sekadar pensiun; ia jadi mentor bagi calon pemimpin dunia, di tengah tantangan ekonomi global yang makin rumit. Kisahnya menginspirasi: dari Bandar Lampung ke Illinois, kini ke Oxford—bukti bahwa integritas dan kompetensi tak kenal batas jabatan.
Latar Belakang Karier Sri Mulyani
Sri Mulyani bukan nama asing di dunia keuangan. Lahir 26 Agustus 1962 di Bandar Lampung, ia lulus sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia 1986, lalu magister dan doktor dari University of Illinois Urbana-Champaign—spesialisasi policy economics. Kariernya melejit saat jadi Deputi Gubernur Bank Indonesia 1999-2004, lalu Menteri Keuangan pertama di bawah SBY 2005-2010. Saat itu, ia reformasi pajak, tebas korupsi, dan stabilkan rupiah pasca-krisis 1998—tapi mundur karena tekanan politik domestik.
Kembali 2016 di era Jokowi, ia jadi Menteri Keuangan termuda yang bertahan di tiga presiden: Jokowi, Prabowo (reappointed Oktober 2024), hingga diganti September 2025. Prestasinya? Kelola defisit anggaran di bawah 3% PDB, dorong digitalisasi pajak via DJP Online, dan pimpin respons pandemi dengan stimulus Rp700 triliun tanpa jebol kas negara. Global, ia wakili Indonesia di IMF sebagai Managing Director 2010-2016, atasi krisis Eropa, dan jadi satu-satunya perempuan di G20 Finance Track. Penghargaan bergelimpangan: Finance Minister of the Year tiga kali, plus gelar doktor kehormatan dari universitas seperti Georgia State. Di balik itu, ia hadapi kontroversi seperti pemotongan gaji PNS 2010 dan protes 2025 yang picu penggantiannya—tapi reputasinya tetap kokoh, bahkan tingkatkan kepercayaan investor asing ke Rp100 triliun tahunan.
Pengumuman Fellowship Sri Mulyani di Oxford
Blavatnik School of Government, sekolah elit Oxford yang fokus kepemimpinan publik sejak 2010, umumkan Sri Mulyani sebagai World Leaders Fellow pada 9 Desember 2025. Program ini dirancang bagi pemimpin negara yang transisi ke tahap selanjutnya—seperti mantan PM atau menteri—untuk mentor mahasiswa dari 100 negara. Sri akan gelar fellowship satu tahun mulai Januari 2026, bantu kurikulum master MPP (Master of Public Policy) dan MPA (Master of Public Administration). Tugasnya: mentor individu, fasilitasi diskusi global, dan eksplorasi inovasi pemerintahan—fokus kebijakan ekonomi berkelanjutan di negara berkembang.
Dekan Ngaire Woods sambut hangat: “Sri Mulyani bawa pengalaman kaya dalam kebijakan ekonomi global, dari stabilkan mata uang hingga reformasi fiskal di tengah krisis.” Sri sendiri antusias: “Ini kehormatan besar. Saya harap berbagi pengalaman, terus belajar, dan dukung generasi baru pimpin dengan integritas di dunia kompleks.” Fellowship ini tak berbayar, tapi beri akses jaringan Oxford—alumni termasuk PM Selandia Baru Jacinda Ardern dan mantan PM Inggris Gordon Brown. Timingnya pas: usai diganti Purbaya, Sri pilih jalur akademik daripada politik, sejalan cita-cita lamanya jadi dosen. Ini langkah strategis, tingkatkan pengaruhnya di forum seperti WEF Davos, di mana ia sering jadi keynote.
Peran dan Dampak Global
Sebagai Fellow, Sri Mulyani tak cuma ngajar; ia jadi jembatan antara teori dan praktik. Di Blavatnik, ia mentor 300 mahasiswa MPP/MPA, bahas kasus seperti reformasi pajak Indonesia yang tingkatkan penerimaan 20% via e-filing. Ia juga fasilitasi sesi dengan pemimpin global—mungkin undang Jokowi atau Prabowo untuk kuliah tamu. Fokusnya: tantangan negara berkembang, seperti transisi energi hijau (Indonesia target net zero 2060) dan digital economy pasca-pandemi. Dampaknya? Tingkatkan profil Indonesia di akademia Barat, tarik beasiswa lebih banyak untuk anak muda kita ke Oxford—seperti program LPDP yang ia dukung.
Global, ini perkuat narasi perempuan Asia di kepemimpinan: Sri jadi satu-satunya dari ASEAN di fellowship ini, inspirasi bagi 50% mahasiswi Blavatnik. Di tanah air, reaksi positif: ekonom Faisal Basri puji “ini akhir bahagia pasca-protes”, sementara Masyarakat Ekonomi Syariah beri selamat via X. Kritik minor ada soal “meninggalkan Indonesia”, tapi Sri klarifikasi: “Saya tetap kontribusi dari jauh, via konsultasi IMF.” Secara keseluruhan, peran ini buka pintu kolaborasi—mungkin riset bersama Oxford soal blue economy Nusantara.
Kesimpulan
Sri Mulyani sebagai World Leaders Fellow di Oxford jadi babak baru yang gemilang, dari Menteri Keuangan tiga presiden ke mentor pemimpin dunia mulai 2026. Dengan pengalaman reformasi fiskal dan krisis global, ia siap bentuk generasi baru yang pimpin dengan integritas—di tengah tantangan seperti inflasi dan perubahan iklim. Ini bukan akhir karir, tapi puncak: bukti perempuan Indonesia bisa kuasai panggung dunia. Bagi kita, inspirasi jelas—belajar tak pernah usai, dan kontribusi tak terbatas jabatan. Semoga Sri bawa Oxford ke Jakarta, dan sebaliknya, ciptakan jembatan kebijakan yang lebih adil. Selamat, Bu Menteri; dunia menanti pelajaranmu.
You may also like

Trump Berikan Jari Tengah Usai Diteriaki “Pelindung Pedofil”

Kyiv Ditutup Kegelapan Usai Laringan Listrik Rusia Dirusak

Leave a Reply